Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Kamis, 25 November 2010

Mencari Sahabat Dunia Akhirat


Sesosok Penuh Makna
Seorang sahabat adalah sosok yang sangat berharga bagi kehidupan seseorang. Kehidupan seseorang akan terwarnai dengan hadirnya seorang sahabat di sisinya. Jika sahabatnya baik, maka ia akan menjadi baik pula. Namun bila sahabatnya buruk, maka sudah sangat mungkin terjadi ia akan terwarnai olehnya.
Indah sekali apa yang pernah Rasulullah ibaratkan tentang seorang sahabat yang beliau umpamakan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Jika berteman dengan penjual minyak wangi, minimal akan mendapat dan mencium wanginya. Berteman dengan seorang pandai besi, bisa-bisa percikan apinya mengenai tubuh dan juga kedapatan bau busuknya. Sungguh beruntung seseorang yang mendapatkan sahabat sejati, yang memuji dibelakangnya dan mengoreksi didepannya.
Maka oleh sebab itu, pandai-pandailah dalam mencari teman atau sahabat. Karena boleh jadi ia akan menjadi pemandumu ke surga atau malah sebaliknya menjadi kendaraanmu menuju ke neraka.
Hanyakah Sebuah Permainan??
Ada sebuah pertanyaan, apakah persahabatanmu sekedar permainan yang bisa ditinggalkan ketika kamu merasa bosan?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diyakini bahwa kehidupan yang kita jalani ibarat sebuah perjalanan. Ada pepatah mengatakan, “Carilah teman sebelum melakukan perjalanan.” Sebab teman bagi seorang musafir bagaikan kehidupan dan ruhnya.
Oleh sebab itu jika persahabatan hanya sekedar permainan, maka tak ayal perjalananmu tidak akan nyaman hingga tujuan bahkan lebih buruk dari itu.
Timbul lagi sebuah pertanyaan, “Lalu siapakah yang layak menjadi sahabat saya?”
Rasulullah Saw telah bersabda bahwa agama seseorang bisa dilihat dari agama teman dekatnya. Itu artinya bahwa perangai, perilaku, dan tabiat seseorang dapat dilihat kepada siapakah seseorang itu bergaul. Maka hendakalah berhati-hati dalam memilih seorang teman. Karena bisa jadi suatu saat engkau akan menjerit dan menyesali keputusanmu persis sebagaimana firman Allah ;
يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)
“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. [Al-Furqan : 28-29]
Maka, relakah engkau akan bernasib demikian??
Beginilah Seorang Sahabat Sejati Itu
Suatu ketika Urwah bin Zubair datang ke kebun mulik Abdul Malik bin Marwan seorang sahabat karibnya. Urwah berkata kepada Abdul Malik, “Alangkah indahnya kebun ini.” Lalu Abdul Malik menimpalinya, “Engkau lebih indah dari kebun ini. Kebun ini berbuah hanya sekali dalam setahun. Sedangkan hikmahmu berbuah setiap hari.”
Subhanallah, alangkah indahnya sebuah persahabatan jika di dalamnya terdapat saling menasihati tentang iman, pentingnya mengingat mati, kepastian hari akhir dan segala hal tentang kebenaran hakiki termasuk segala kebaikan. Diri terasa dihibur dan juga digentarkan. Dihibur dengan cerita mengenai ganjaran kebaikan berupa surga, dan digentarkan oleh cerita dahsyatnya siksa neraka.
Alangkah indahnya seorang sahabat, yang ketika kita berbuat salah ia menegur dan menasihati, bukan karena rasa benci, namun karena begitu cintanya ia terhadap kita sehingga tak bosan-bosannya mengingatkan akan sebuah kebenaran. Namun seringkali kita terlupa, termakan oleh egoisme diri, merasa lebih baik, lebih banyak makan asam garam, sehingga menafikan sebuah kebenaran yang sebenarnya datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya lewat lidahnya. Alangkah indahnya seorang sahabat yang mau ikut menangis bersama, ketika melihat sahabat lainnya jatuh dalam kubangan nista dan dosa, merasa kasihan, bukan kebencian hingga bergetar bibir menahan tangis dan kesedihan, terluka jiwa yang fitrah oleh tajamnya belati hawa nafsu.
Pintar Memilih Teman
Ada beberapa kriteria yang bisa membantu kamu menetapkan pilihan untuk memilih teman yang tepat.
1. Bersahabat dengannya dapat menambah keimanan
Sahabat dengan tipe seperti ini, jika melihatnya akan mengingatkan kamu dengan Allah. Duduk bersamanya membawa kamu kepada ketaatan. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Dan ia bisa mengubah setiap detak jantung dan hembusan nafasmu menjadi ibadah.
2. Bersahabat dengannya dapat menambah keilmuan kamu semakin luas.
Memiliki sahabat yang berilmu dapat menghidupkan hati dan menajamkan otak. Dengannya hidup akan selalu diselimuti nilai positif persahabatan yang dilandasi dengan ilmu. Dari sini kita dapat melihat bahwa keberkahan ilmu tidak terletak pada banyaknya. Tapi keberkahannya terletak sebesar apa pengaruhnya terhadap sahabatnya.
3. Dapat Membela Harga Diri Sahabatnya
Salah satu tipe sahabat sejati adalah ia senantiasa membela harga diri sahabatnya dan tidak rela harga diri sahabatnya dilecehkan. Rasulullah pernah bersabda, “Siapa yang membela harga diri saudaranya, maka Allah menjauhkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat kelak.” [HR. Turmudzi]
4. Ia Selalu Menolong Kamu dalam Kesempitan
Ada sebuah cermin indah yang dapat kita saksikan dari para pendahulu kita tentang arti sebuah persahabatan. Berikut kisahnya ;
Imam Al-Waqidi menceritakan pengalaman hidupnya. Ia berkata, “Saya memiliki dua orang teman. Satu dari mereka berasal dari keturunan bani Hasyim (satu keturunan dengan Rasulullah Saw.) Persahabatan kami sangat kuat ibarat satu tubuh yang saling merasakan penderitaan yang lain. Suatu hari saya mengalami krisis keuangan yang sangat berat. Krisis itu kami rasakan hingga hari raya datang.
Ketika itu istriku berkata, “Kita insya Allah bisa bersabar. Tapi bagaimana dengan anak-anak kita?” Aku tidak kuasa menahan sedih mendengar kata-kata istriku itu. Aku lalu mengirim surat kepada temanku yang dari keturunan Bani Hasyim tersebut. Di surat tersebut aku sebutkan bahwa aku ingin meminjam sedikit uang padanya. Setelah ia membaca suratku, ia mengirimi kami satu bungkusan. Di luarnya ia tulis bahwa uang yang berada di dalamnya adalah seribu dirham.
Sebelum saya duduk menghitung uang itu, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Ia adalah utusan sahabatku yang ketiga. Ia meminjam uang karena ia juga sedang tidak memiliki bekal untuk lebaran tahun itu. Dengan berat hati aku serahkan kantong duit itu tanpa sempat kubuka. Aku juga melihat keberatan di wajah istriku.
Kemudian aku pergi ke mesjid, karena takut istriku marah. Tapi, Setelah aku pulang ternyata kudapati istriku tetap sabar dan tidak marah, bahkan ia memujinya.
Tidak lama kemudian sahabatku yang keturunan bani Hasyim datang. Ia membawa bungkusan tadi. Ia berkata, “Apa yang engkau lakukan dengan uang yang kukirim tadi?” Aku lalu menceritakan padanya kejadian sebenarnya. Ia melanjutkan, “Saat itu aku tidak punya apa-apa melainkan uang yang ada dalam kantong ini. Ketika kamu minta bantuan aku pun mengiriminya padamu. Setelah aku tak punya apa-apa lagi dan aku minta bantuan sahabat kita. Ternyata ia mengirimkan kantong yang kukirim padamu tadi.”
Akhirnya uang yang seribu dirham itu mereka bagi.
Imam Waqidi melanjutkan, “Kabar itu sampai pada khalifah Al Makmun. Ia memanggilku ke istana. Di sana aku menceritakan padanya kejadian itu apa adanya.
Ketika pulang ia memberi kami uang 7000 dinar. Masing-masing kami mendapatkan 2000 dinar dan 1000 dinarnya lagi ia berikan pada isteriku.”
Luar biasa sekali. Dari kisah di atas kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran salah satunya adalah bahwa mereka lebih mengutamakan sahabatnya daripada dirinya sendiri sesulit apapun kondisinya.
5. Selalu Menjaga Hati dan Perasaan Sahabatnya
Seorang sahabat sejati, maka ia tahu bagaimana keadaan hati sahabatnya. Ia pandai dalam memilih kata dan berhati-hati agar ucapan serta tindakannya tidak melukai perasaan sahabatnya.
“Mulutmu harimaumu” begitulah pepatah mengatakan. Mulut bisa menjadi pedang dan pisau yang sangat tajam bila mengenai hati seseorang. Sakitnya tak terkira melebihi sakit tersayat sembilu. Namun pepatah itu seakan tidak berlaku bagi seorang sahabat sejati. Baginya mulut adalah bunga. Kemana-mana selalau menebarkan aroma wangi yang banyak orang mencari bak kumbang yang candu dengan aroma bunga.
Jangan Pernah Ucapkan Selamat Tinggal
Di era yang penuh dengan persaingan ini banyak sekali orang yang merasa kecewa bahkan putus asa. Semangat bersaing seringkali mengacuhkan kesetiaan sehingga sulit ditemukan sahabat yang sejati. Sahabat yang pengertian dan bisa diajak bersama menatap masa depan yang penuh barokah. Namun demikian, hal ini bukanlah saat untuk mengucapkan selamat tinggal, akan tetapi saat untuk menguatkan azam dan bismillah mencari sesosok sahabat sejati itu. Waallahu a’lam bis showab.

0 komentar:

Poskan Komentar